A. Pengertian
Manajemen Diri
Manajemen
diri atau pengaturan diri mengacu pada proses yang digunakan siswa untuk
memfokuskan pikiran, perasaan, dan tindakan secara sistematis pada pencapaian
tujuan.[1] Manajmen
diri secara umum terdiri dari tiga langkah utama, yaitu menentukan tujuan,
memonitor dan mengevaluasi kemajuan, dan memberikan penguatan diri. Apabila
tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan orang-orang yang mampu mendidik
dirinya maka siswa harus belajar mengatur dirinya dengan menentukan tujuan
sendiri, memonitor dan mengevaluasi perilakunya, dan menyediakan penguatan untuk
dirinya sendiri.
Dalam
kehidupan orang dewasa, penghargaan sering tampak tidak jelas, dan tujuan
sering memerlukan waktu lama untuk mencapainya. Hidup dipenuhi tugas-tugas yang
perlu diurutkan dalam manajemen diri, agar kegiatan lebih teratur dan
pencapaian tujuan bisa diprediksi.[2]
Pengaturan
diri bisa timbul dalam berbagai bentuk. Kebanyakan yang dikenal, pengaturan
diri yang melibatkan perilaku, ketika seseorang mengatur perilaku mereka untuk
membuat diri mereka berfokus pada pencapaian tujuan. Akan tetapi pengaturan
diri juga melibatkan variabel kognitif dan variabel yang berpengaruh. Dengan
demikian, ketika dilibatkan dalam aktifitas belajar akan bermanfaat bagi siswa
untuk menjaga efikasi diri untuk belajar, menyakini hasil yang positif akan
timbul, dan menjaga keadaan emosi yang positif. Proses dan strategi pengaturan
diri yang ditetapkan siswa memiliki keragaman dalam hal apakah sifatnya umum
(diterapkan bagi berbagai jenis pembelajaran) atau khusus (diterapkan hanya
bagi jenis pembelajaran tertentu).[3]
Beberapa
proses pengaturan diri misalnya pembuatan tujuan dan mengevaluasi kemajuan
tujuan, bisa digunakan secara umum. Sementara hal lainnya hanya bisa digunakan
pada tugas khusus. Misalnya penerapan rumus kuadrat untuk memecahkan persamaan
kuadrat.
Standar
dan tujuan yaang kita tetapkan bagi diri kita sendiri , dan cara kita memonitor
dan mengevaluasi proses-proses kognitif dan perilaku kita sendiri, dan
konsekuensi-konsekuensi yang kita tentukan sendiri untuk setiap kesuksesan dan
kegagalan kita semuanya merupakan aspek-aspek pengaturan diri. Jika pemikiran
dan tindakan kita berada dibawah control kita, bukan dikontrol orang lain dan
kondisi
disekitar
kita, kita
dikatakan
merupakan
individu yang mengatur
diri. Idealnya, pembelajar
seharusnya
menjadi
semakin
mampu
mengatur
diri
seiring
semakin
dewasanya
mereka.[4]
B. Manajemen
Diri dalam Berbagai Teori Pembelajaran
1. Teori Behavior
Pendekatan
perilaku beranjak dari asumsi bahwa pada dasarnya tingkah laku adalah respon atau stimulus yang muncul.
Secara sederhana tingkah laku manusia dapat digambarkan dalam model S-R atau
kaitannya stimulus dan respon. Ini berarti bahwa tingkah laku itu bersifat
reflek, bahkan ada kalanya dimaknai tanpa kerja mental sama sekali.[5]
Ketika kita berperilaku dalam cara tertentu
dan bagaimana lingkungan kita bereaksi memberi penguatan pada beberapa perilaku
dan menghukum atau mencegah perilaku yang lain kita mulai membedakan antara
respons yang di inginkan dan respons yang tidak diinginkan. Ketika kita
mengembangkan suatu pemahaman mengenahi respon-respon mana yang sesuai dan yang
mana tidak sesuai bagi diri kita sendiri, itu berarti kita semakin mengontrol
dan memonitor perilaku kita sendiri.[6]
Dengan kata lain, ketika kita mampu mengatur perilaku sesuai dengan respon yang
kita dapat, kita sudah terlibat dalam perilaku yang diatur sendiri atau
melakukan kegiatan manajemen diri.
Dari
sudut pandang teori perilaku, pengaturan diri melibatkan pilihan diantara
perilaku yang berbeda dan membandingkan pelaksanaan dalam hal pelaksanaan yang
ditunda. Orang-orang mengatur perilakunya dengan memutuskan perilaku mana yang
akan diatur. Mereka kemudian membangun stimulus pembeda ketika muncul,
memberikan pengajaran sendiri ketika dibutuhkan, dan mengawasi kinerja mereka
untuk menentukan apakah perilaku yang diinginkan terjadi. Tiga sub proses kunci
manajemen diri dalam teori behavioral adalah:
a. Self monitoring (pemantauan
diri)
Pemantauan
diri mengacu pada penekanan perhatian pada beberapa aspek perilaku seseorang
dan sering dipadukan dengan pencatatan frekuensi atau intensitasnya.
Orang-orang tidak bisa mengatur tindakan mereka jika mereka tidak sadar dengan
apa yang mereka lakukan. Ketika menulis makalah, siswa secara berkala menilai
pekerjaan mereka untuk menentukan apakah makalah tersebut menyatakan ide yang penting, apakah mereka bisa mnyelesaikannya
tepat waktu, apakah makalah itu akan terlalu panjang atau terlalu pendek. Kita
bisa melakukan pemantauan diri dalam beragam area tersebut sebagai keahlian
motorik, seni, dan perilaku sosial.
Ada
dua kriteria dalam pemantauan diri, yaitu reguler dan ambang batas. Reguler berarti mengawasi perilaku pada
dasar yan berkelanjutan ketimbang melaksanakannya sesekali. Ambang batas berarti perilaku diawasi
dengan ketat sesuai dengan saat terjadinya perilaku ketimbang mencatatnya
setelah beberapa lama.[7]
b. Self intruction
(pengajaran diri)
Pengajaran
diri mengacu pada pembuatan stimulus pembeda yang mengatur kemunculan respons
pengaturan diri yang membawa pada pelaksanaan. Satu jenis pengajaran diri
melibatkan penyusunan lingkungan untuk menghasilkan stimulus yang berbeda.
Siswa yang menyadari bahwa mereka harus mengkaji catatan kelas dihari
berikutnya akan menulis pengingat untuk diri mereka sebelum tidur. Pengingat
yang ditulis itu berfungsi sebagai petunjuk untuk mengkaji, yang menjadikannya
sebagai pelaksana. Jenis lain pengajaran diri berbentuk pernyataan yang
berfungsi sebagai stimulus pembeda untuk membimbing perilaku.
c. Self reinforcement
(pendesak diri)
Pendesak
diri mengacu pada proses dimana seseorang memaksa dirinya tergantung pada
kinerja respons yang diinginkan, yang meningkatkan kecenderungan pada respons
di masa mendatang.[8]
Banyak penelitian menunjukan bahwa desakan meningkatkan kinerja akademik,
tetapi tidaklah jelas apakah desakan akan leebih efektif daripada desakan
eksternal.
2. Teori kognitif sosial
Teori
kognitif sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura, berpandangan bahwa
individu dalam mengembangkan tingkah laku positif dilakukan dengan meniru
tingkah laku yang diterima masyarakat. Demikian juga tingkah laku negatif juga
dapat berkembang dengan meniru tingkah laku yang tidak diterim masyarakat.[9]
Bandura menjelaskan bahwa karakteristik lainnya dari teori kognitif sosial
adalah peran utama yang diberikannya pada fugnsi-fungsi pengaturan diri.
Dari
sudut pandang sosial kognitif, pengaturan diri membutuhkan pilihan siswa. Hal
ini tidak berarti siswa selalu mengambil keuntungan dari pilihan yang ada.
Penerapan awal prinsip teori kognitif sosial pada pengaturan diri tercakup pada
tiga subproses berikut:[10]
a. Observasi
diri
Observasi
diri melibatkan penilaian aspek yang diobservasi dalam perilaku seseorang
melawan standar dan bereaksi secara positif atau negatif. Proses ini juga tidak
berlangsung terpisah dari lingkungan. Siswa yang menilai bahwa kemajuan belajar
mereka tidaklah cukup, bisa bereaksi dengan meminta bantuan dari guru, yang mengubah
lingkungannya.
b. Penilaian
diri
Penilaian
diri berarti membandingkan tingkat kinerja terkini dengan tujuan. Penilaian
diri tergantung pada jenis standar evaluasi diri yang digunakan, sifat-sifat
tujuan, pentingnya pencapaian tujuan, dan atribusi. Penilaian diri mencermikan
pentingnya pencapaian tujuan. Ketika seseorang tidak terlalu memerdulikan
kinerja mereka, mereka tidak bisa menilai kinerja mereka atau menggerakkan
usaha untuk mengembangkannya. Orang-orang menilai kemajuan mereka dalam belajar
atas tujuan yang mereka hargai.
c. Reaksi
diri
Reaksi
diri pada kemajuan tujuan dapat memotivasi perilaku. Keyakinan bahwa seseorang
sedang menunjukan kemajuan, bersama dengan kepuasan yang diperkirakan dalam
penyelesaian tujuan, memperkuat efikasi diri dan mempertahankan motivasi. Teori
kognitif sosial mendalilkan bahwa konsekuensi dari perilaku akan memperkuat
motivasi ketimbang konsekuensi sebnarnya. Nilai diberikan di akhir kelas, tetapi
siswa bisanya membuat subtujun untuk mnyelesaika pekerjaan mereka dan memberi
ganjaran dan menghukum diri mereka terkait dengan hal tersebut.
Ahli
teori kognitif sosial menyatakan bahwa sistem pengaturan diri bersifat terbuka,
tujuan dan aktifitas strategi berubah berdasarkan umpan balik evaluasi.
Kemajuan tujuan dan pencapaian meningkatkan efikasi diri siswa dan bisa membawa
pada pengadopsian tujuan baru dan lebih sulit.
Teori
pengolahan informasi melihat pembelajaran sebagai pengkodean informasi dalam
LTM. Siswa mengaktifkan bagian-bagian yang terkait denagn LTM dan menghubungkan
pengetahuan barudengan informasi yang telah ada dalam working memory. Informasi yang terusun dan bermakna lebih mudah
diintegrasikan dengan ngetahuan yang sudah ada dan akan lebih mudah diingat.[11]
Metode
dalam pembelajaran pengaturan diri merupakan prosedur atau teknik khusus yang
tercakup dalam strategi pencapaian tujuan. Semua metode tidak selalu sesuai
bagi semua jenis tugas. Pelatihan akan menjadi metode yang dipilih ketika
seseorang harus mengingat fakta sederhana, tetapi penyusunan akan sesuai bagi
pemahaman. Berbagai metode yang berbeda adalah sebagai berikut:
a. Pelatihan.
Yang termasuk dalam metode pelatihan adalah mnulangi informasi,
menggarisbawahi, dan membuat bentuk-bentuk ringkasan.
b. Elaborasi.
Yang termasuk dalam prosedur elaborasi adalah imajinasi, hafalan, bertanya, dan
mencatat dengan menambahkan sesuatu untuk membuat pembelajaran lebih bermakna.
c. Penyusunan.
Teknik penyusunan mencakup menghafal, penglomokan, pembuatan kerangka, dan
pemetaan.
d. Memantau
pemahaman. Memantau pemahaman membantu siswa menentukan apakah mereka sudah
tepat menerapkan pengetahuan deklaratif dan prosedural pada materi yang
dipelajari, mengevaluasi apakah mereka memahami materi, memutuskan apakah
strategi yang lebih baik dibuthkan, dan mengetahui mengapa penggunaan strategi
akan meningkatkan pemblajaran.
e. Teknik
afektif. Metode ini mmbantu kita dalam mengatasi kecemasan, mengembangkan
kenyakinan positif, pembuatan tujuan, membangun waktu reguler dan tempat untuk
belajar, dan memnimalisir gangguan.[12]
4. Teori konstruktivis
Salah
satu yang terkenal berkaitan dengan tori belajar konstruktivisme adalah teori
perkembangan mental Piaget. Teori bisa disebut teori perkembangan intelektual
atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dngan
kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual
dari lahir hingga dewasa.[13]
Penelitian
kontruktivis telah membahas pengaturan diri yang terlibat sebagai bakat alamiah
sehingga pakar-pakar konstruktivis terkemuka mengasumsikan bahwa siswa menyusun
pengetahuan dan cara untuk mendapatkan dan menerapkannya. Dua poin kunci yang mendasari asumsi ini
adalah bahwa pengaruh sosiokultural merupakan hal penting sehingga orang-orang
membentuk teori implisit mengenahi diri mereka, orang lain, dan bagaimana
mengelola tuntutan.
a. Pengaruh-pengaruh
sosiokultural
Vygotsky
menyakini bahwa orang-orang dan lingkungan budaya mereka berperan dalam sistem
interaksi sosial. Dia menyakini bahwa orang-orang dapat mengendalikan tindakan
mereka. Mekanisme utama yang memengaruhi pengaturan diri adalah bahasa dan zone of proximal development (ZPD).
Pengaturan
diri juga tergantung pada kesadaran siswa pada perilaku yang diterima dalam
pergaulan sosial. Maka tindakan tergantung pada konteks dan alat yng digunakan
untuk menjelaskan tindakan. Melalui interaksi dengan orang dewasa dngan ZPD,
anak melakukan transisi dari perilaku yang diatur oleh orang lain menuju
perilaku yang diatur oleh diri mereka sendiri.
b. Teori-teori
implisit
Teori
implisit merupakan fitur yang melekat pada pertimbangan pakar konstruktivis
dalam pembelajaran, kognisi, dan motivasi. Siswa juga menyusun teori mengenai
pembelajaran pengaturan diri. Teori tersebut hadir bersama dengan teori
menganai orang lain dan dunia mereka, jadi teori pembelajaran pengaturan diri
sangat konstektual.
Jenis
utama teori implisit melibatkan keyakinan anak mengenahi kmampuan akademik
mereka. Anak yang mengalami masalah dalam pembelajaran dan yangmenyakini bahwa
masalah tersebut mencerminkan kemampuan yang buruk cenderung menunjukan
motivasi yang rendah untuk berhasil. Keyakinan bahwa usaha menghasilkan
keberhasilan dan belajar menghasilkan kemampuan yang lbih tinggi terkait
positif dengan pengaturan diri yang efektif.[14]
C. Hubungan Antara Motivasi dan
Manajemen Diri
Motivasi
terkait erat dengan pengaturan diri. Orang-orang termotivasi untuk mencapai tujuan
yang dilaksanakan dalam aktifitas pengaturan diri yang mereka yakin akan membantu
mereka, misalnya menyusun dan melatih materi, mengawasi kemajuan pembelajaran dan
menyesuaikan strategi. Pada gilirannya pengaturan diri meningkatkan pembelajaran,
dan persepsi atas kompetensi yang lebih besar
yang mempertahankan motivasi dan pengaturan diri untuk mencapai tujuan baru.
Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Wolters, peneliti menentukan bagaimana beragam strategi
dirancang untuk menjaga motifasi tugas yang optimal, misalnya meneguhkan usaha,
keuletan, membuat tugas menjadi menarik terkait denganstrategi pengaturan diri
yang digunakan selama pembelajaran, misalnya latihan, elaborasi, perencanaan,
pemantauan, penyusunan. Hasilnya menunjukan bahwa motivasi yang mengatur aktifitas
yang digunakan siswa memprediksi pengaturan diri mereka. Pengadopsian orientasi
tujuan pembelajaran terkait dengan efikasi diri, nilai tugas dan pencapaian diri.[15]
Beberapa
aspek pengaturan diri berkaitan dengan motivasi yang menarik perhatian adalah meliputi
kemauan, nilai-nilai, skema diri, mencaribantuan.
1.
Kemauan
Kemauan
adalah dorongan kehendak yang terarah pada tujuan-tujuan hidup tertentu, dan
dikendalikan oleh pertimbangan akal budi. Jadi, pada kemauan itu ada
kebijakasanaan akal dan wawasan, disamping juga ada kontrol dan persetujuan
dari pusat kepribadian. Maka kemauan lebih tinggi tingkatannya dari pada
instink, reflex, automatisme, kebiasaan, nafsu, keinginan, kecenderungan dan
hawa nafsu.[16]
Beberapa peneliti mendefinisikan
kemauan
bagian
dari
sistem
pengaturan
diri yang lebih
besar yang mencakup motivasi dan proses kognitif
lainnya. Kemauan
merupakan
tindakan
untuk
menggunakan
keinginan.
MenurutCorno, kemauan
bias
dicirikan
sebagai
sebuah
sistem yang dinamis
dalam proses pengendalian
psikologi yang melindungi
konsentrasi
dan
usaha yang diarahkan
menghadapi
gangguan personal dan
lingkungan, sehingga
membantu
pembelajaran
dan
kinerja.
Membedakan dua aspek fungsi kemauan terkait dengan pengaturan diri akan bermanfaat, diantaranya
yaitu:
a.
Kendali
tindakan
Kendali tindakan berfokus pada memodifikasi kemampuan atau strategi pengatur. Fungsi ini akan mencakup fokus dari berbagai intervensi yang bertujuan
memperkuat
pengaturan
diri.
b.
Gaya
kemauan
Gaya kemauan mengacup pada kemauan yang stabil
dan
berbeda
secara individual, berbeda
dengan
kemampuan
dan
strategi
khusus yang melibatkan
kendali
tindakan.
Gaya
kemauan
mencakup
variable
kepribadian yang seharusnya
kurang
disetujui
untuk
diubah
melalui
pengajaran.[17]
2.
Nilai-nilai
Komponen utama dalam motivasi yang terkait
dengan
pengaturan
diri
adalah
nilai yang dianggap
siswa
didapatkan
dari
belajar.
Siswa yang tidak
menghargai
apa yang mereka
pelajari
tidak
termotivasi
untuk
mengembangkan
atau
melatih
pengaturan
diri
atas
aktivitas
mereka.
3.
Skema
diri
Skema diri merupakan perwujudan kognitif dari tujuan, aspirasi, motivasi, ketakutan, dan
ancaman yang terus
ada.
Skema
diri
secara
esensial
merupakan
konsep
diri
kita
dalam
situasi yang
berbeda
atau
apa yang akan
kita
hadapi. Pentingnya
skema
diri
adalah hal itu diasumsikan menghubungkan kaitan antara situasi dan perilaku. Seseorang bertindak sebagian berdasarkan pada persepsi mereka terhadap diri mereka.
Skema diri biasanya memberikan kaitan antara motivasi dan strategi yang digunakan. Jika
seseorang
memiliki ide mengenai
apa yang biasa
mereka
capai
dan
apa yang biasa mereka
lakukan, maka
diri yang memungkinkan
bisa
berperan
sebagai
pembimbing
untuk
tindakan
dan
berisi
strategi yang
akan
diterapkan. Diri yang
memungkinkan bisa memainkan peranan penting dalam pengaturan diri karena gagasan mengenai apa yang bisa dicapai seseorang meneguhkan penggunaan strategi pengaturan diri.[18]
4.
Mencari
bantuan
Mencari bantuan merupakan satu cara untuk mengatur lingkungan sosial untuk
membantu
pembelajaran siswa yang
menguasai pengaturan diri cenderung meminta bantuan ketika mereka menghadapi tugas yang sulit dan memahami kebutuhan akan bantuan. Penelitian
menunjukan
bahwa
pola
motivasi yang berbeda
bias
menimbulkan
beragam
bentuk
pencarian
bantuan.
Dari
sudut
pengaturan
diri, jenis yang paling
adaptif dalam pencarian bantuan adalah dengan memberikan umpan balik pada pembelajaran dan kemajuan. Guru bisa bekerja sama dengan siswa untuk mendorong pencarian bantuan siswa ketika bantuan tersebut akan membantu mengembangkan kemampuan akademik mereka.[19]
D. Aplikasi Manajemen Diri dalam Pengajaran
Siswa
dapat diajari memantau dan mengatur perilakunya sendiri. Strategi pembelajaran pengaturan
diri seperti ini sering disebut pengubahan perilaku kognisi. Manning
mengajarkan pernyataan diri sendiri kepada siswa kelas tiga yang suka mengganggu
untuk membantu mereka mengingat perilaku yang pantas dan memperkuat perilaku tersebut
bagi diri sendiri. Sebagai contoh, untuk mengangkat tangan dengan tepat, siswa diajari
mengatakan pada diri sendiri pada saat mengangkat tangan, “jika saya meneriakan
jawaban, orang lain akanterganggu. Saya akan mengangkat tangan saya dan menunggu giliran saya. Bagus untuk saya, lihat saya bias menunggu”.
Dorongan pembelajaran pengaturan diri merupakan sarana mengajari siswa berfikir
tentang
pemikiran
mereka
sendiri.
Strategi
pembelajaran
pengaturan
diri
tidak
hanya
terbukti
meningkatkan
kinerja
dalam
tugas yang diajarkan
kepada
siswa, tetapi
juga
telah
digeneralisasi
ke
tugas lain.[20]
1.
Memperkenalkan
sistem
secara
positif
Contoh:
a.
Berikan
penekanan
kepada
sistem
secara
positif.
b.
Pertimbangkan
untuk
memulai
program secara
sukarela.
c.
Jelaskan
bagaimana
anda
menggunakan program
manajemen diri untuk diri anda.
2.
Bantu
siswa belajar menetapkan tujuan
Contoh 1:
a.
Monitor
tujuan sesering mungkin pada awal kegiatan, dan tentukan standar tinggi yang masuk
akal.
b.
Buat
pengumuman
tujuan
dengan
menyuruh
siswa
menyampaikan
tujuannya
kepada guru dan
kepada
teman-temannya
tentang
apa yang ingin
dicapai.
c.
Siapkan
cara agar siswa dapat mencatat dan mengevaluasi kemajuannya.
Contoh 2:
a.
Bagi
pekerjaan
menjadi
langkah-langkah yang mudah
diukur.
b.
Siapkan
model dari pekerjaan yang baik
dimana
keputusan
lebih
sulit, seperti
menulis
kreatif.
c.
Berikan
siswa
form
pencatatan
untuk
mencatat
kemajuan.
d.
Cek
akurasi
catatan
siswa
dari
waktu
ke
waktu,
dan
dorong
siswa
untuk
mengembangkan bentuk penguatan diri.
Prinsip
pengaturan diri memiliki manfaat
dalam aplikasi pengajaran. Aplikasi yang paling efektif adalah aplikasi dimana
pengaturan diri digabungkan dengan pengajaran pembelajaran akademik. Tiga area
yang diterapkan ialah akademik, penulisan, dan matematika.[22]
1. Pembelajaran
akademik
Banyak
siswa memiliki masalah dalam belajar, dan banyak penelitian telah meneliti pembelajaran
pengaturan diri siswa selama pembelajaran akademik. Ada materi yang diterbitkan
yang membantu siswa mengembangkan kebiasaan belajar yang lebih baik, begitu
pula dengan mempelajari mata pelajaran secara efektif yang menggabungkan konten
akademik. Penelitian menunjukan bahwa pembelajaran akademik mendapat manfaat
dari pengajaran strategi dan pengelolaan waktu.
2. Keterampilan
menulis
Seperti
bentuk lain pembelajaran, perkembangan kemampuan menulis dipengaruhi oleh
motivasi dan pengaturan diri. Bruning dan Horn mencirikan perkembangan ini
sebagai proses pemecahan masalah yang sangat cair yang membutuhkan pemantauan
terus menerus pada kemajuan terhadap tujuan tugas. Modelkognitif penulisan
menggabungkan komponen-komponen pengaturan diri. Siswa merupakan orang yang
memproses informasi secara aktif yang menggunakan strategi kognitif dan
metakognisi selama penulisan. Pembuatan tujuan dan pemantauan pada kemajuan
tujuan merupakan hal kunci dalam proses pengaturan diri.
Penulisan
adalah tugas yang berat dan membutuhkan kendali perhatian, pemantauan diri, dan
kendali kemauan. Graham dan Haris menyatakan bahwa pengaturan diri memengaruhi
penulisan dengan dua cara. Satu, proses pengaturan diri memberikan blok-blok
bangunan yang disusun untuk menyelesaikan tugas menulis. Cara kedua, proses ini
dapat membawa pada penyesuaian strategis dalam menulis dan pengaruh jangka
panjang. Mengajari siswa kemampuan diri dalam konteks tugas menulis
menghasilkan pencapaian dan motivasi yang lebih tinggi.
3. Keterampilan
matematika
Mempelajari matematika
dapat diperkuat dengan mengajarkan strategi yang efektif pada siswa. Pendekatan
ini diikuti dalam model perkembangan strategi pengaturan diri. Strategi
pengaturan diri mencakup pembuatan
tujuan untuk sesi individual dan pemantauan serta pengukuran kemajuan terhadap
pencapaian tujuan. Strategi umum ini dilengkapi dengan strategi khusus yang
digunakan untuk menjawab soal. Dibandingkan dengan pengajaran-pengajaran
reguler, pengajaran pengaturan diri meningkatkan kinerja siswa dan mentrasfer
kemampuan.
[1] Dale H. Schunk, Learning Theories and Educational
Perspective, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 545.
[2] Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam..., hlm. 211.
[3] Dale H. Schunk, Learning Theories..., hlm. 545.
[4]Jeanne
Ellis Ormrod,
Psikologi Pendidikan, Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang, (Jakarta:
Erlangga, 2008), hlm.
30
[5] Sudarwan Danim dan Khairil, Psikologi Pendidikan (Dalam Perspektif
Baru), (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 54.
[7] Dale H. Schunk, Learning Theories..., hlm. 549.
[8] Dale H. Schunk, Learning Theories..., hlm. 550-551.
[9] Mohammad Asriri, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: Wacana
Prima, 2008), hlm. 23.
[10] Dale H. Schunk, Learning Theories..., hlm. 554-559.
[11] Dale H. Schunk, Learning Theories..., hlm. 565.
[12] Dale H. Schunk, Learning Theories..., hlm. 569-577.
[13] Makmun Khairani, Psikologi Belajar, (Yogyakarta: Aswaja
Pressindo, 2014), hlm. 75.
[14] Dale H. Schunk, Learning Theories..., hlm. 580-583.
[22] Dale H. Schunk, Learning Theories..., hlm. 591.