Jumat, 13 Januari 2017

EPISTEMOLOGI INTEGRATIF ARAH PENGEMBANGAN KEILMUAN PADA SEKOLAH DASAR



       I.          

  PENDAHULUAN
Jika kita melihat kembali sejarah kelahiran Islam, maka realitas sosial utama dan pertama yang dihadapi adalah krisis moral yang melanda kehidupan umat ketika itu. Adanya ketimpangan struktur sosial ekonomi dan polotik yang eksploitatif membuat yang kaya memperbudak dan memperdagangkan yang miskin. Ukuran dan kebenaran dan keadilan ditentukan oleh yang kaya, yang kuat dan yang berkuasa. Disamping itu, fanatisme kesukuan yang sempit sering kali diperalat untuk mengukuhkan suatu kekuasaan, sehingga permusushan, peperangan dan pertumpahan darah tidak bisa dihindarkan lagi. Ini dilakukan demi memperebutkan kekuasaan atas wilayah-wilayah perdaganyan, perjudian, dan hiburan.
Pada masa sekrang ini, kondisi masyarakat Islam khususnya di Indonesia semakin terlihat jelas mengarah pada kondisi seperti diatas. Perilaku dan moralitas generasi muda kita semakin memperihatinkan, juga tidak lepas juga dari pengaruh dewasa masyarakat kita yang banyak sekali memberikan banyak sekali contoh-contoh perilaku yang tidak sesuai. Orang lebih banyak memikirkan bagaimana agar dirinya sukses di dunia dengan mengabaikan konsep-konsep moral yang berlaku di masyarakat. Sehingga generasi muda tanpa disadari ikut mengarah pada pemikiran-pemikiran tersebut.
Usaha untuk keluar dari krisis dekadensi harus segera ditemukan. Berbagai gagasan dalam memperbaiki generasi bangsa untuk masa depan mulai banyak di dengungkan namun belum ada yang terlihat jelas hasilnya. Jika tidak segera ditemukan, maka krisis multidimensi ini akan mengancam eksistensi bangsa pada umumnya dan eksistensi umat Islam pada khususnya. Dalam krisis yang demikian ini Nabi pernah mengatakan bahwa tidak ada jalan lain selain meluruskan moral yang bengkok itu dari dasarnya.[1] Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi perilaku, sehingga perlu juga untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu murni yang diajarkan disekolah-sekolah dasar dengan keilmuan agama  yang sesuai.
    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Darimanakah ilmu itu ditemukan?
B.     Apa sajakah metode dalam mengembangkan ilmu?
C.     Bagaimana implikasi integrasi pengetahuan pada pendidikan dasar?
D.    Bagaimana mengembangkan guru dalam upaya integrasi pengetahuan?
 III.            PEMBAHASAN
A.    Sumber Ilmu
Eksistensi manusia sangat dibatasi oleh runag, waktu, dan syarat-syarat lain yang dibawa oleh kodratnya. Akan tetapi dengan cara-cara tertentu manusia dapat melampaui batas ruang, waktu, dan syarat-syarat yang lain. Manusia mulai mendengarkan berita-berita, mengumpulkan informasi-informasi, dan memeriksa data-data yang telah terkumpul dari pepristiwa-peristiwa yang tidak ia alami sendiri. Demikian juga segala sesuatu yang dapat ia alami sendiri ia himpun dan ia renungkan, ia oleh sehingga menajdi pengetahuan yang makin tepat dan makin mantap.
Persoalan yang muncul tentang bagaimana proses terbentuknya pengetahuan oleh umat manusia dapat siperoleh melalui pendektan a priori maupun aposteriori. Pengetahuan yang ddiperoleh melalui pendektan apriori adalah pengetahuan yang diperolah tanpa melalui proses pengalaman, baik pengalaman yang bersumber dari pancaindera maupun pengalaman batin atau jiwa. Sebaliknya, pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan aposteriori adalah pengetahuan yang diperoleh dari informasi yang didapatkan dari orang lain atau pengalaman yang sudah ada sebelumnya.[2]
Setiap jenis ilmu pengetahuan mempunyai cirri-ciri yang spesifik mengenahi apa, bagaimana, dan untuk apa pengetahuan tersebut disusun. Dalam buku yang ditulis oleh Mohammad Adib, dijelaskan enam sumber-sumber pengetahuan, yakni: pengalaman, indera, nalar, otoritas, intuisi, wahyu, dan keyakinan.[3]
Untuk mendapatkan pengetahuan yang benar pada dasarnya ada dua sumber utama yang perlu diketahui oleh manusia, yaitu berdasarkan rasio dan pengalaman manusia. Pengetahuan yang diperoleh dari sumber rasio, kebenarannya hanya didasarkan pada kebenaran akal pikiran semata, pendapat ini dikembangkan oleh para kaum rasionalis, sedangkan orang yang menganut faham ini disebut kaum rasionalisme. Sebaliknya, orang yang berpendapat bahwa sumber ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman, kebenaran pengetahuan hanya di dasarkan pada fakta-fakta yang ada dilapangan, sedangkan orang yang menganut faham ini disebut sebagai kaum empirisme.
Kaum rasionalis, untuk memeroleh pengetahuan yang benar dilakukan dengan menggunakan penalaran, sedangkan logika yang digunakan adalah logika deduktif. Premis-premis yang digunakan dalam proses penalaran diperoleh melalui ide-ide yang menurut anggapan dasarnya jelas dan dapat diterima. Prinsip semacam ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya, sehingga orang yang menggunakan logika deduktif dalam setiap pemecahan masalah yang dihadapi dikenal dengan nama idealisme.[4]
Kaum empiris, mempunyai pendapat yang berbeda dengan kaum rasionalis terkait dengan sumber pengetahuan. Seorang penganut empirisme biasanya berpendirian bahwa kita dapat memeroleh pengetahuan melalui pengalaman.[5] Kaum empiris beranggapan bahwa gejala-gejala alamiah yang terjadi dimuka bumi ini adalah bersifat konkrit dan dapat dinyatakan melalui tangkapan panca indera manusia. Gejala-gejala ini bila kita kaji lebih jauh, ternyata memiliki beberapa karakteristik tertentu, misalnya gejala alam yang muncul ternyata memiliki pola yang teratur mengenahi suatu kejadian tertentu. Hal ini memungkinkan kita untuk melakukan generalisasi dari berbagai kasus yang telah terjadi di alam semesta ini. Artinya dengan menggunakan penalaran induktif mka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum melalui pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual.
Sumber pengetahuan selain dapat diperoleh melalui rasionalisme dan empirisme, ternyata masih ada cara lain yang perlu kita ketahui yaitu intuisis dan wahyu. Intuisi adalah kegiatan berfikir untuk mendapatkan pengetahuan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bisa bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permasalahan yang ditemukan tidak pada saat seseorang itu sadar sedang memikirkan mencari pemecsahan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Suatu masalah yang kita pikirkan, yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu tiba-tiba saja muncul dibenak kita suatu jawaban yang lengkap.
Intuisis merupakan kegitan berfikir yang bersifat personal dan tidak bisa diramalkan sebagai dasar penyusunan pengetahuan secara teratur maka intuisis tidak dapat diandalkan. Intuisis merupakan pengalaman puncak bagi manusia dalam mencari kebenaran. Dan intuisi merupakan intelegensi yang paling tinggi bagi diri manusia dalam mencari kebenaran.[6]
B.     Metode dalam Mengembangkan Ilmu
1.      Metode Epistemologi Barat
Banyak identifikasi tentang pendekatan epistemology barat yang telah melakukan imperialism epistemology diseluruh dunia, terutama di dunia Islam. Menurut Kazuo Shimogaki, kecenderungan epistemology barat modern menjadi lima macam yaitu: pemisahan antara bidang sacral dan bidang duniawi, kecenderungan kea rah reduksionisme, pemisahan antara subyektifitas dan objektifitas, antroposentrisme, dan progresifisme.
Agaknya perlu disebutkan juga bahwa pendekatan epistemology barat itu adalah sebagai berikut:[7]
a.       Pendekatan skeptis
Cirri skeptis atau keragu-raguan (kesangsian) tampaknya menjadi warna dasar bagi epistemology barat. Skeptisisme ini pertamakali di dunia barat di perkenalkan oleh Rene Descartes. Baginya, filsafat dan ilmu pengetahuan dapt diperbaruhi melalui metode dengan menyangsikan segala-galanya. Dalam bidang ilmiah tidak ada suatu apapun yang dianggap pasti, semuanya dapat dipersoalkan dn pada kenyataannya memang dipersoalkan dan pada kenyataannya memang dipersoalkan kecuali ilmu pasti.
Pikiran-pikiran Descartes, terutama tentang metode skeptis itu sangat memengaruhi filsafat modern, termasuk juga aspek epistemologinya. Disamping itu, juga memngaruhi ilmu pasti, ilmu pesawat, ilmu alam dan ilmu kedokteran. Paradigma berfikir skeptis ini sampai sekarang selalu dijadikan pedoman dalam memperbaruhi dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Para ilmuan senantiasa menyangsikan segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan hingga mendapatkan kemantapan. Diaklangan ilmuan barat, keraguan menjadi salah satu cirri epistemologinya. Mereka berangkat dari keraguan ketika menghadapi suatu persoalan pengetahuan yang belum terpecahkan secara menyakinkan. Tradisi epistemology akhirnya memengaruhi ilmuan lainnya. Akhirnya sikap skeptis merupakan karakteristik seorang ilmuan, artinya dia tidak pernah menerima kebenaran suatu pernyataan sebelum penjelasan mengenahi isi pernyataan itu dapat dia terima dan konsekuensi kebenaran pernyataan tersebut dapat disaksikannya secara empirik.[8]
b.      Pendekatan rasional empiris
Dalam epistemology barat, metode rasional memiliki tempat yang istimewa, terutama pada saat mengukur keabsahan kebenaran ilmu pengetahuan. Betapapun bagusnya temuan ilmu pengetahuan, bila tidak rasional kebenarannya maka temuan terseebut tidak akan diakui sebagai kebenaran ilmiah.
Jadi rasio telah memainkan peran signifikan terhadap bangunan epistemology berikut hasil-hasilnya. Bahkan epistemology yang berkembang sekarang ini terlalu mengandalkan kekuatan rasio, tanpa sedikitpun member peluang kepada kemungkinan-kemngkinan trasnsenden untuk memengaruhi perilaku seseorang.[9] Rasio menjadi sandaran utama dalam membangun ilmu pengetahuan bail ilmu alam, ilmu sosial, maupun humaniora. Sehingga rasio menjadi penentu keabsahan ilmu pengetahuan.
c.       Pendekatan dikotomik
Dikotomi adalah pembagian atas dua konsep yang saling bertentangan. Dikotomi ini muncul bersamaan dengan setidaknya beriringan dengan masa renaissance di Barat. Sebelumnya kondisi sosio religious maupun sosio intelektual di Barat dikendalikan oleh gereja. Semua temuan ilmiah bisa dianggap sah dan benar bila sesuai dengan doktrin-doktrin gereja. Masa renaissance  ini melahirkan sekularisasi (pemisahan urusan dunia dan akhirat) dan dari sekularisasi ini lahirlah dikotomi pengetahuan.
Epistemology barat yang senantiasa bersifat dikotomis tersebut bagi ilmuan barat adalah cara terbaik untuk memeroleh kebenaran pengeahuan. Namun, bagi dunia Islam bisa mengandung bahaya. Berdasarkan kenyataan ini, maka muncul gagasan Islam Untuk Disiplin Ilmu (IUDI), supaya ilmu pengetahuan tidak berkembang secara liar. Oleh karena berbagai masalah, pembagian pengetahuan yang bersifat dikotomis itu tentu tidak diterima oleh Islam, karena berlawanan dengan kandungan ajaran Islam sendiri.
d.      Pendekatan positif-obyektif
Kata positif sama artinya dengan faktual (apa yang berdasarkan fakta-fakta). Pengetahuan kita tidak boleh melampaui fakta-fakta, maka pengetahuan empiris dijadikan pedoman istimewa dalam bidang pengetahuan. Ilmu-ilmu positif dalam menerangkan suatu hal tidak merujuk kepada hal-hal yang buka fenomena dan yang mengatasi bidang inderawi. Dengan kata lain, ilmu positif tidak mepergunakan keterangan yang sifatnya metafisis.
Pendekatan yang dekat dengan pendekatan positif adalah pendekatan objektif. Pendekatan obyektif adalah pendekatan yang memandang pengetahuan manusia sebagai suatu sistem pernyataan atau teori yang dihadapkan pada diskusi kritis, ujian intersubjektif atau kritik timbale balik. Pendekatan objektif ini berusaha membersihkan pengetahuan dari subjektifitas orang yang mengembangkannya lantaran faktor agama, biografi intelektual, ideology, adat, maupun kepentingan golongan tertentu.


e.       Pendekatan yang menentang dimensi spiritual (anti metafisika)
Para filosof barat modern mulai dari Rene Descsartes hingga para ilmuan belakangan ini hamper semuanya menolak keterlibatan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan. Bagi mereka, jika saja eksistensi wahyu Tuhan diakui itu hanya dalam kapasitasnya member petunjuk kepada manusia dalam memantapkan keimanan, menjalankan ibadah, melaksanakan upacara-upacara ritual, dan meningkatkan moral. Jelasnya, wahyu memiliki peranan sendiri dalam kehidupan manusia, yaitu memberikan seperangkat aturan yang harus dijalani manusia sebagai bekal untuk menuju kehidupan akhirat. Diluar itu semua termasuk persoalan ilmu pengetahuan tidak termasuk bahasan wahyu.
2.      Metode Epistemologi Islam
Sedangkan dalam kronologi struktur metodologi Islam, yaitu berangkat dari filsafat Islam yang mencakup  epistemology Islam yang kemudian epistemology Islam melahirkan metodologi Islam. Berpijak dari perbedaan antara filsafat Islam dan filsafat Barat, akhirnya melahirkan epistemology dan selanjutnya metodologi yang berbeda. Namun ketika berpijak pada kesamaan keduanya, maka terdapat titik pertemuan.dari perbedaan keduanya diperoleh kenyataan bahwa filsafat Islam disamping berdasarkan akal jugaa berdasarkan wahyu, dan wahyu ini mewarnai epistemology Islam, sehingga ia mencakup dimensi spiritual, seperti intuisi. Selanjutnya epistemology yang berdasarkan nilai-nilai transcendental ini melahirkan metodologi yang juga dipengaruhi nilai-nilai transcendental yang kemudian disebut metodologi Islam.[10]
Mengingat filsafat Islam berdasarkan wahyu, maka epistemology dan metodologi Islam juga di dasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Mohammad Anwar menegaskan bahwa Qur’an Hadis adalah sumber fundamental metodologi Islam. Pengetahuan Qur’an dan Hadis adalah pangkal (inti, dasar, permulaan) metodologi Islam. Pangkal itu merupakan pusat pertumbuhan pengetahuan. Panmgkal itu memuat beberapa pengetahuan yang relevan dengan setiap disiplin. Penggunaan metodologi Islam akan membawa konsekuensi lebih lanjut, pengetahuan yang di capai dari metodologi ini merupakan pengetahuan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Sebaliknya, pengetahuan yang dihasilkan dari metodologi barat tidak bisa diakui sebagai pengetahuan yang Islami.
Dengan demikian, metodologi Islam tidak bebas nilai. Metode Islam tetap akan dipengaruhi wahyu kendati juga dipengaruhi akal. Sesungguhnya dalam memeroleh pengetahuan dengan sengaja berpegang pada wahyu dan akal bersama-sama, dan menolak sikap ekstrim. Meskipun metode islami sarat-sarat dengan nilai-nilai yang berasal dari wahyu Allah, tetapi masih mempertimbangan keseimbangan, sehingga akal diberikan peran yang besar dalam memeroleh pengetahuan. Pemahaman yang benar tidak menjadikan wahyu dan akal berbenturan, tetapi justru menjadikan wahyu memberikan bantuan atau menyempurnakan akal.[11]
Metode epistemology pendidikan Islam adalah metode-metode yang digunakan dalam memeroleh pengetahuan tentang Islam. Dari perenungan-perenungan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, Hadist Nabi, sementara didapatkan lima macam metode untuk membangun pengetahuan tentang pendidikan Islam, yaitu:
a.       Metode rasional
Metode ini dipakai untuk mencapai pengetahuan tentang pendidikan Islam, terutama yang bersifat apriori. Pencapaian jenis ini merupakan hasil dari perenungan-perenungan akal. Penggunaan akal untuk mencapai pengetahuan termasuk pengetahuan pendidikan Islam mendapat pembenaran agama Islam. Sebagaimana kita ketahui, bahwa al_qur’an merupakan wahyu Allah yang diperuntukan untuk petunjuk bagi manusia yang bertaqwa. Akan tetapi al-Qur’an tidak bisa dipahami oleh orang bodoh atau sembarang orang. Al-Qur’an baru dapat dipahami jika seseorang disamping berbekal ilmu-ilmu bantu, juga mendayagunakan akalnya. Dengan kata lain, al-Qur’an menuntut agar dipahami dengan akal sehat.
b.      Metode intuitif
Dalam tindakan metode, metode intuitif ini sering disebut sebagai metode apriori. Dalam pembahasan filsafat, apriori umumnya dimaksudkan sebagai adanya pengetahuan yang diperoleh sebelum di dahului oleh pengalaman. Jika metode intuitif itu sering disebut sebagai metode apriori itu karena pengetahuan yagn diperoleh menggunakan pendekatan intuitif itu adalah pengetahuan yang tiba-tiba secara teranugerahkan dan tidak melalui pengalaman sama sekali. Dalam pendidikan Islam, pengetahuan intuitif tersebut senantiasa ditempatkan pada posisi yang layak. Intuisi ada dalam diri manusia dan sekaligus merupakan potensi manusia untuk memeroleh pengetahuan.
Dalam ilmu pengetahuan Islam, bukan hanya menggunakan indera da akal dalam merumuskan suatu konsep, tapi yang tak kalah strategisnya adalah adalah mmenggunakan intuisi dan wahyu. Memeberikan sumbangan yang signifikan terhadap bangunana ilmu pengetahuan Islam, karena intuisi dijadikan sebagai metode dalam memperoleh pengetahuan.

c.       Metode dialogis
Metode dialogis yang dimaksud adalah upaya menggali pengetahuan pendidikan Islam yang dilakukan melalui karya tulis yang disajikan dalam bentuk percakapan (Tanya-jawab) antara dua orang ahli atau lebih berdasarkan argumentasi-argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Metode dialogis ini memiliki sandaran teologis yang jelas. Upaya untuk mencari jawaban-jawaban adalah aktifitas yang sah menurut Islam maupun ilmu pengetahuan. Dialog ilmiah tersebut pberperan dalam memperkaya peradaban, kebudayaan, atau lebih spesifik lagi ilmu pengetahuan. Dialog dapat melahirkan pemahaman yang jernih, wawasan yang luas dan komprehensif, serta pengetahuan yang baru sama sekali.[12]
d.      Metode komparatif
Metode komparatif adalah metode memeroleh pengetahuan dengan cara membandingkan teori maupun praktik pendidikan, baik sesame pendidikan Islam maupun pendidikan Islam dengan pendidikan lainnya. Metode komparatif sebagai metode epistemology pendidikan Islam tidak hanya bertujuan yang sifatnya perluasan pengetahuan, tetapi yang lebih penting justru pembentukan dan penyusunan pengetahuan yang baru sama sekali.
e.       Metode kritik
Kritik ini penting sekali dalam menguji validitas pengetahuan. Sejarah filsafat sendiri banyak diwarnai oleh kritik. Kritik tidak hanya terdapat pada filsafat Islam, tetapi juga pada ilmu Kalam, Fiqih, Sejarah Islam maupun Hadist. Bahkan dalam penelitian HAdist ditemukan banyak ulama kritikus Hadist. Namun belakangan ini, tradisi kritik itu mengalami kemandegan dikalangan muslim, sehingga peradaban Islam mengalami kemandegan. Pemikir muslim dewasa ini jarang sekali yang berpijak dari metode kritik ketika mengungkapkan gagasan-gagasannya. Kritik terlahir dari proses berfikir secara cermat, jernih dan mendalam sehingga ditemukan celah-celah kelemahan dari konsep-konsep, teori-teori, maupun pemikiran-pemikiran yang dikritik.
C.    Implikasi Integrasi Pengetahuan Pada Pendidikan Dasar
Kompleksitas persoalan yang ada dalam kehidupan manusia dewasa ini membuat kepercayaan kepada ilmu dan teknologi sebagai satu-satunya yang mampu menyelesaikan persoalan manusia secara lebih memuaskan dan mendasar, mulai memudar. Bahkan masyarakat mulai menganggap iptek telah gagal menciptakan kedamaian dan kebahagiaan manusia. Dari itu diperlukan sebuah sistem ilmu pengetahuan yang tidak terpecah-pecah dan tidak berdiri sendiri, akan tetapi bekerjasama secara harmonis.[13]
Integrasi keilmuan antara ilmu pengetahuan umum dengan ilmu pengetahauan agama Islam masih terlalu banyak pada tataran teoretis dan baru dilaksanakan pada tingkat perguruan tinggi. Antara lain dengan menyatukan lokasi pendidikan dan program kerjasama penelitian yang malibatkan banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu dan juga program kuliah lintas disiplin.
Demikian strategisnya konsep integrasi keilmuan maka sebagai tujuan mencerdaskan bangsa, maka eksistensi pendidikan dasar adalah ekuivalen dengan keinginan banyak pihak untuk secara sadar, sistematis, terarah dan terpadu berikhtiyar mengarahkan peserta didik menjadi manusia bermoral dan berperadaban. Hal demikian tentulah bukanlah hal yang berlebihan, karena pada pendidikan tingkat dasar dipandang sebagai waktu paling tepat untuk mendidik karakter manusia.[14]
Pada wilayah sekolah dasar, anak-anak yang lebih banyak diajarkan pengetahuan umum disbanding pengetahuan agama yang kemudian menjadi kebanggaan anak terhadap penegetahuan agama menjadi berkurang. Mata pelajaran umum masih menjadi tujuan utama dalam penguasaan keilmuan ketika belajar di sekolah. Kiranya konsep integrasi keilmuan umum dan juga keilmuan agama dapat dilaksanakan dilingkungan sekolah dasar juga. Sehingga anak memahami sejak awal bahwa tidak ada pemisahan antara keilmuan umum dan keilmuan agama yang mereka pelajari.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam mengintegrasikan keilmuan pada tingkat dasar diantaranya sebagai berikut:
1.      Terhadap arah kebijakan pendidikan dasar. Dalam aplikasinya pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan nasional. Sehingga dalam upaya mengintegrasikan keilmuan tidak dapat dilakukan secara sepihak, tapi harus mulai dari kebijakan pendidikan pada tingkat nasional.
2.      Terhadap isi kurikulum pendidikan dasar. Berbagai kebijaksanaan pemerintah yang tertuang dalam landasan yuridis formal perundang-undangan pendidikan telah memposisikan pendidikan agama Islam sebagai muatan kurikulum wajib.
3.      Terhadap konsep dasar pendidikan agama pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan agama bukanlah ranah yang tersendiri yang bebas menentukan haluan perjalanannya. Idealisasi pendidikan agama yang berkeseimbangan bukanlah sekedar normatif. Realita kehidupan anak menunjukan semakin banyaknya pengalaman agama yang di dapatnya melalui pembiasaan, akan semakin banyaklah unsur agama dalam pribadinya dan semakin mudah dalam memahami ajaran agama pada tingkatan selanjutnya. Jadi agama itu mulai dengan amaliah, kemudian ilmiah atau penjelasan sesuai dengan pertumbuhan jiwanya.
Sistem pengetahuan yang demikian itu, dikembangkan dan lembagakan melalui pendidikan. Sebagaimana yang terjadi pada masa kejayaan Islam, pendidikan dapat menghasilkan kreatifitas dalam segala bidang ilmu pengetahuan.
Manurut Fazlur Rahman, upaya mengembalikan kejayaan umat Islam dalam berbagai bidang adalah dengan menumbuhkan sifat kritis dan kreatif. Pada awalnya sikap kritis dan kreatif yang diperlukan adalah yang memungkinkan peserta didik berani dan memiliki rasa percaya diri untuk memahami wahyu secara langsung. Mereka tidak lagi menganggap bahwa hasil pemahaman ulama terhadap wahyu merupakan hasil yang sudah final, yang pasti mujarab untuk mendiagnosis permasalahan-permasalahan sekarang dan yang akan datang.[15] Jadi upaya dalam mengintegrasikan pengetahuan umum dengan pengetahuan agama yang tujuan utamanya adalah utnuk memajukan kembali umat Islam pada zaman modern ini, dalam tingkatan dasar adalah dengan menciptakan jiwa islami yang kritis dan kreatif.
D.    Mengembangkan Guru dalam Upaya Integrasi Pengetahuan
Dalam upaya pengembangan integrasi ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama dilingkungan sekolah dasar, guru memiliki peran yang sangat penting. Kemampuan guru dalam mengembangkan pembelajaran yang mengintegrasikan keilmuan umum dan agama akan sangat menentukan keberhasilan upaya tersebut. Namun tidak bisa dipungkiri kemampuan pengajar-pengajar masih belum mampu mengintegrasikan pengetahuan umum dengan pengetahuan agama. Guru masih hanya menguasai satu bidang tertentu saja.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan kualitas guru sehingga dapat mengintegrasikan pengetahuan umum dan agama, langkah-langkah pemberdayaan guru berdasarkan hasil analisis atas kondisi guru di Indonesia diantaranya:[16]
1.      Peningkatan kesejahteraan guru
Peningkatan kesejahteraan dapat berupa kesejahteraan ekstrinsik dan intrinsik. Kesejahteraan ekstrinsik terkait dengan gaji yang layak yang minimal dapat memenuhi kebutuhan fisik yang menurut Maslow sebagaimana dikutip oleh Robins meliputi: rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian, perumahan), seks, dan kebutuhan ragawi lainnya. Walaupun besarnya gaji diyakini sangat menentukan tingkat kesejahteraan namun bukanlah satu-satunya. Seandainya kemampuan lembaga terbatas untuk memberi gaji yang memadai, lembaga dapat melakukan cara lain dalam rangka memenuhi kebutuhan guru lainnya sebagaimana dikemukakan Maslow. Kebutuhan itu meliputi: jaminan keamanan (fisik dan emosional), sosial (kasih saying, rasa memiliki, diterima baik, dan persahabatan), penghargaan (penghargaan internal seperti harga diri, otonomi dan prestasi, dan factor hormat eksternal seperti status, pengakuan dan perhatian), dan aktualisasi diri (dorongan untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi, mencakup pertumbuhhan, mencapai potensialnya, dan pemenuhan dirinya).  
2.      Pengembangan karir guru
Pengembangan karir antara lain dapat dilakukan dengan sistem promosi terbuka dan jujur sehingga membuka peluang untuk berkompetisi secara fairness diantara sesame guru. Berbagai jenis lomba dan penghargaan bagi guru berprestasi perlu dibudayakan. Jabatan-jabatan structural yang strategis dan puncak jabatan fungsional yang dapat dijabat oleh guru dikembangkan baik dengan memformalkan posisi yang telah ada sekarang maupun dengan mengembangkan posisi baru yang memang dibutuhkan sejalan dengan dinamika organisasi sekolah.
3.      Peningkatan kemampuan para guru
Peningkatan kemampuan professional guru dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti: pendidikan lanjutan dlam jabatan, inservice traing, pembentukan wadah-wadah peningkatan kualitas guru seperti penyeliaan, pemantapan kerja guru (PKG) dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Sekolah perlu mengakses informasi yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan guru majalah, jurnal, internet dan lain sebagainya.
4.      Mengatasi beban psikologis guru
Guru memiliki beban psikologis yang berat akibat tugas-tugas berat dan kompleks yang harus dilaksanakan, tanggungjawab yang dipikulkan, kemampuan yang terbatas dan gaji yang kecil. Atas dasar itu sekolah perlu mengembangkan pembinaan guru secara orang per-orang dan bersifat pendekatan pribadi untuk memenuhi kebutuhan masing-masing guru.
Jadi usaha dalam mengembangkan guru sangat erat kaitannya dengan seluruh unsure pendidikan. Tidak bisa mengembangkan kualitas guru hanya diserahkan kepada masing-masing guru. Segenap unsure yang terkait dalam pendidikan harus ikut serta mengembangkan dengan cara dan batas kekuasaannya masing-masing, sehingga tujuan dalam mengintegrasikan pengetahuan umum dengan pengetahuan agama dapat tercapai dengan maksimal.
 IV.            KESIMPULAN
Untuk mendapatkan pengetahuan yang benar pada dasarnya ada dua sumber utama yang perlu diketahui oleh manusia, yaitu berdasarkan rasio dan pengalaman manusia. Pengetahuan yang diperoleh dari sumber rasio, kebenarannya hanya didasarkan pada kebenaran akal pikiran semata, pendapat ini dikembangkan oleh para kaum rasionalis, sedangkan orang yang menganut faham ini disebut kaum rasionalisme. Sebaliknya, orang yang berpendapat bahwa sumber ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman, kebenaran pengetahuan hanya di dasarkan pada fakta-fakta yang ada dilapangan, sedangkan orang yang menganut faham ini disebut sebagai kaum empirisme.
Sumber pengetahuan selain dapat diperoleh melalui rasionalisme dan empirisme, ternyata masih ada cara lain yang perlu kita ketahui yaitu intuisis dan wahyu. Intuisi adalah kegiatan berfikir untuk mendapatkan pengetahuan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bisa bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permasalahan yang ditemukan tidak pada saat seseorang itu sadar sedang memikirkan mencari pemecsahan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Suatu masalah yang kita pikirkan, yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu tiba-tiba saja muncul dibenak kita suatu jawaban yang lengkap.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan kualitas guru sehingga dapat mengintegrasikan pengetahuan umum dan agama, langkah-langkah pemberdayaan guru berdasarkan hasil analisis atas kondisi guru di Indonesia diantaranya:
1.      Peningkatan kesejahteraan guru. 
2.      Pengembangan karir guru.
3.      Peningkatan kemampuan para guru.
4.      Mengatasi beban psikologis guru.






DAFTAR PUSTAKA

A.M syaifuddin. 1991. Desekulerisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, Bandung: Mizan.
Abdullah, Amin. dkk., 2003. Menyatukan Kembali Ilmu-Ilmu Agama Dan Umum, Yogyakarta: Suka Press.
Adib, Mohammad. 2014. Filsafat Ilmu, Ontology, Epistemology, Aksiologi dan Logika Pengetahuan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ghony, M. Junaidi dan Fauzan Almansur. 2012. Filsafat Ilmu dan Metode Penelitian, Malang: Uin Maliki Press.
Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana.
Mas’ud,Abdurrachman. dkk., 2001. Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mujamil Qomar, Epistemology Pendidikan Islam, dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, Jakarta: Erlangga.
Suriasumantri, Jujun S. Tentang Hakikat Ilmu: Sebuah Pengantar Redaksi, Jakarta: Gramedia, 1989.
Sutrisno, Fazlur Rahman. 2006. Kajian Terhadap Metode, Epistemology, dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tobroni. Pengembangan Profesionalisme Guru, artikel,diakses tanggal 03 Maret 2016.


[1] Amin Abdullah, dkk., Menyatukan Kembali Ilmu-Ilmu Agama Dan Umum, (Yogyakarta: Suka Press, 2003), hlm. 31.
[2] M. Junaidi Ghony dan Fauzan Almansur, Filsafat Ilmu dan Metode Penelitian, (Malang: Uin Maliki Press, 2012), hlm. 80.
[3] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu, Ontology, Epistemology, Aksiologi dan Logika Pengetahuan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hlm. 24.
[4] M. Junaidi Ghony dan Fauzan Almansur, Filsafat Ilmu dan Metode Penelitian, hlm. 82.
[5] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), hlm. 132.
[6] M. Junaidi Ghony dan Fauzan Almansur, Filsafat Ilmu dan Metode Penelitian, hlm. 85.
[7] Mujamil Qomar, Epistemology Pendidikan Islam, dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, (Jakarta: Erlangga), hlm. 58.
[8] Jujun S, Suriasumantri, Tentang Hakikat Ilmu: Sebuah Pengantar Redaksi, (Jakarta: Gramedia, 1989), hlm. 12.
[9] A.M syaifuddin, Desekulerisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, (Bandung: Mizan,1991), hlm. 46.
[10] Mujamil Qomar, Epistemology Pendidikan Islam…, hlm. 186.
[11] Mujamil Qomar, Epistemology Pendidikan Islam…, hlm. 188.
[12] Mujamil Qomar, Epistemology Pendidikan Islam…, hlm. 328.
[13] Amin Abdullah, dkk., Menyatukan Kembali Ilmu-Ilmu…, hlm. 37.
[14] Abdurrachman Mas’ud, dkk., Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 240.
[15] Sutrisno, Fazlur Rahman, Kajian Terhadap Metode, Epistemology, dan Sistem Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 183.
[16] Tobroni, Pengembangan Profesionalisme Guru, artikel,diakses tanggal 03 Maret 2016.

Senin, 05 Oktober 2015

Mitos Atlantis

Atlantis, Atalantis,[1] atau Atlantika[1] (bahasa Yunani: Ἀτλαντὶς νῆσος, “pulau Atlas”) adalah pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias.[2]
Dalam catatannya, Plato menulis bahwa Atlantis terhampar “di seberang pilar-pilar Herkules”, dan memiliki angkatan laut yang menaklukan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra “hanya dalam waktu satu hari satu malam”.
Atlantis umumnya dianggap sebagai mitos yang dibuat oleh Plato untuk mengilustrasikan teori politik. Meskipun fungsi cerita Atlantis terlihat jelas oleh kebanyakan ahli, mereka memperdebatkan apakah dan seberapa banyak catatan Plato diilhami oleh tradisi yang lebih tua. Beberapa ahli mengatakan bahwa Plato menggambarkan kejadian yang telah berlalu, seperti letusan Thera atau perang Troya, sementara lainnya menyatakan bahwa ia terinspirasi dari peristiwa kontemporer seperti hancurnya Helike tahun 373 SM atau gagalnya invasi Athena ke Sisilia tahun 415-413 SM.
Masyarakat sering membicarakan keberadaan Atlantis selama Era Klasik, namun umumnya tidak mempercayainya dan terkadang menjadikannya bahan lelucon. Kisah Atlantis kurang diketahui pada Abad Pertengahan, namun, pada era modern, cerita mengenai Atlantis ditemukan kembali. Deskripsi Plato menginspirasikan karya-karya penulis zaman Renaissance, seperti “New Atlantis” karya Francis Bacon. Atlantis juga mempengaruhi literatur modern, dari fiksi ilmiah hingga buku komik dan film. Namanya telah menjadi pameo untuk semua peradaban prasejarah yang maju (dan hilang).
Catatan Plato
Dua dialog Plato, Timaeus dan Critias, yang ditulis pada tahun 360 SM, berisi referensi pertama Atlantis. Plato tidak pernah menyelesaikan Critias karena alasan yang tidak diketahui; namun, ahli yang bernama Benjamin Jowett, dan beberapa ahli lain, berpendapat bahwa Plato awalnya merencanakan untuk membuat catatan ketiga yang berjudul Hermocrates. John V. Luce mengasumsikan bahwa Plato — setelah mendeskripsikan asal usul dunia dan manusia dalam Timaeus, dan juga komunitas sempurna Athena kuno dan keberhasilannya dalam mempertahankan diri dari serangan Atlantis dalam Critias — akan membahas strategi peradaban Helenik selama konflik mereka dengan bangsa barbar sebagai subyek diskusi dalam Hermocrates.
Empat tokoh yang muncul dalam kedua catatan tersebut adalah politikus Critias dan Hermocrates dan juga filsuf Socrates dan Timaeus, meskipun hanya Critias yang berbicara mengenai Atlantis. Walaupun semua tokoh tersebut merupakan tokoh bersejarah (hanya tiga tokoh pertama yang dibawa),[3] catatan tersebut mungkin merupakan karya fiksi Plato. Dalam karya tertulisnya, Plato menggunakan dialog Socrates untuk mendiskusikan posisi yang saling berlawanan dalam hubungan prakiraan.
.Timaeus
Timaeus dimulai dengan pembukaan, diikuti dengan catatan pembuatan dan struktur alam semesta dan peradaban kuno. Dalam bagian pembukaan, Socrates merenungkan mengenai komunitas yang sempurna, yang dideskripsikan dalam Republic karya Plato, dan berpikir apakah ia dan tamunya dapat mengingat sebuah cerita yang mencontohkan peradaban seperti itu.
Pada buku Timaeus, Plato berkisah:
Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.[4]
Critias
Critias menyebut kisah yang diduga sejarah yang akan memberikan contoh sempurna, dan diikuti dengan deskripsi Atlantis. Dalam catatannya, Athena kuno mewakili “komunitas sempurna” dan Atlantis adalah musuhnya, mewakili ciri sempurna sangat antitesis yang dideskripsikan dalam Republic. Critias mengklaim bahwa catatannya mengenai Athena kuno dan Atlantis berhaluan dari kunjungan ke Mesir oleh penyair Athena, Solon pada abad ke-6 SM. Di Mesir, Solon bertemu pendeta dari Sais, yang menerjemahkan sejarah Athena kuno dan Atlantis, dicatat pada papiri di heroglif Mesir, menjadi bahasa Yunani. Menurut Plutarch, Solon bertemu dengan “Psenophis Heliopolis, dan Sonchis Saite, yang paling dipelajari dari semua pendeta” (Kehidupan Solon). Karena jarak 500 tahun lebih antara Plutarch dan peristiwa yang bersifat sebagai alasan atau dalih, dan karena informasi ini tidak ada pada Timaeus dan Critias, identifikasi ini dipertanyakan.
Menurut Critias, dewa Helenik membagi wilayah sehingga tiap dewa dapat memiliki; Poseidon mewarisi wilayah pulau Atlantis. Pulau ini lebih besar daripada Libya kuno dan Asia Kecil yang disatukan,[1] tetapi akan tenggelam karena gempa bumi dan menjadi sejumlah lumpur yang tak dapat dilewati, menghalangi perjalanan menyebrang samudra. Bangsa Mesir mendeskripsikan Atlantis sebagai pulau yang terletak kira-kira 700 kilometer, kebanyakan terdiri dari pegunungan di wilayah utara dan sepanjang pantai, dan melinkungi padang rumput berbentuk bujur di selatan “terbentang dalam satu arah tiga ribu stadia (sekitar 600 km), tetapi di tengah sekitar dua ribu stadia (400 km).
Wanita asli Atlantis bernama Cleito (putri dari Evenor dan Leucippe) tinggal disini. Poseidon jatuh cinta padanya, lalu memperistri gadis muda itu dan melahirkan lima pasang anak laki-laki kembar. Poseidon membagi pulau menjadi 10 wilayah yang masing-masing diserahkan pada 10 anak. Anak tertua, Atlas, menjadi raja atas pulau itu dan samudra disekitarnya (disebut Samudra Atlantik untuk menghormati Atlas). Nama “Atlantis” juga berasal dari namanya, yang berari “Pulau Atlas”.
Poseidon mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding. Bangsa Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute menuju sisa pulau. Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan, dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau kuningan).
Menurut Critias, 9.000 tahun sebelum kelahirannya, perang terjadi antara bangsa yang berada di luar Pilar-pilar Herkules (umumnya diduga Selat Gibraltar), dengan bangsa yang tinggal di dalam Pilar. Bangsa Atlantis menaklukan Libya sampai sejauh Mesir dan benua Eropa sampai sejauh Tirenia, dan menjadikan penduduknya budak. Orang Athena memimpin aliansi melawan kekaisaran Atlantis, dan sewaktu aliansi dihancurkan, Athena melawan kekaisaran Atlantis sendiri, membebaskan wilayah yang diduduki. Namun, nantinya, muncul gempa bumi dan banjir besar di Atlantis, dan hanya dalam satu hari satu malam, pulau Atlantis tenggelam dan menghilang.
Catatan kuno lainnya
Selain Timaeus dan Critias, tidak terdapat catatan kuno mengenai Atlantis, yang berarti setiap catatan mengenai Atlantis lainnya berdasarkan dari catatan Plato.
Banyak filsuf kuno menganggap Atlantis sebagai kisah fiksi, termasuk (menurut Strabo) Aristoteles. Namun, terdapat filsuf, ahli geografi dan sejarawan yang percaya akan keberadaan Atlantis.[5] Filsuf Crantor, murid dari murid Plato, Xenocrates, mencoba menemukan bukti keberadaan Atlantis. Karyanya, komentar mengenai Timaeus, hilang, tetapi sejarawan kuno lainnya, Proclus, melaporkan bahwa Crantor berkelana ke Mesir dan menemukan kolom dengan sejarah Atlantis tertulis dalam huruf heroglif.[6] Plato tidak pernah menyebut kolom tersebut. Menurut filsuf Yunani, Solon melihat kisah Atlantis dalam sumber yang berbeda yang dapat “diambil untuk diberikan”.[7]
Bagian lain dari komentar abad ke-5 Proclus mengenai Timaeus memberi deskripsi geografi Atlantis. Menurut mereka, terdapat tujuh pulau di laut tersebut pada saat itu, suci untuk Persephone, dan juga tiga lainnya dengan besar yang sangat besar, salah satunya suci untuk Pluto, lainnya untuk Ammon, dan terakhir di antaranya untuk Poseidon, dengan luas ribuan stadia. Penduduknya—mereka menambah—memelihara ingatan dari nenek moyang mereka mengenai pulau besar Atlantis yang pernah ada dan telah berkuasa terhadap semua pulau di laut Atlantik dan suci untuk Poseidon. Kini, hal tersebut telah ditulis Marcellus dalam Aethiopica”.[8] Marcellus masih belum diidentifikasi.
Sejarawan dan filsuf kuno lainnya yang mempercayai keberadaan Atlantis adalah Strabo dan Posidonius.[9]
Catatan Plato mengenai Atlantis juga telah menginspirasi beberapa imitasi parodik: hanya beberapa dekade setelah Timaeus dan Critias, sejarawan Theopompus dari Chios menulis mengenai wilayah yang disebut Meropis. Deskripsi wilayah ini ada pada Buku 8 Philippica, yang berisi dialog antara Raja Midas dan Silenus, teman dari Dionysus. Silenus mendeskripsikan Bangsa Meropid, ras manusia yang tumbuh dua kali dari ukuran tubuh biasa, dan menghuni dua kota di pulau Meropis (Cos?): Eusebes (Εὐσεβής, “kota Pious”) dan Machimos (Μάχιμος, “kota-Pertempuran”). Ia juga melaporkan bahwa angkatan bersenjata sebanyak sepuluh juta tentara menyebrangi samudra untuk menaklukan Hyperborea, tetapi meninggalkan proposal ini ketika mereka menyadari bahwa bangsa Hyperborea adalah bangsa terberuntung di dunia. Heinz-Günther Nesselrath menyatakan bahwa cerita Silenus merupakan jiplakan dari kisah Atlantis, untuk alasan membongkar ide Plato untuk mengejek.[10]
Zoticus, seorang filsuf Neoplatonis pada abad ke-3, menulis puisi berdasarkan catatan Plato mengenai Atlantis.[11]
Sejarawan abad ke-4, Ammianus Marcellinus, berdasarkan karya Timagenes (sejarawan abad ke-1 SM) yang hilang, menulis bahwa Druid dari Galia mengatakan bahwa sebagian penduduk Galia bermigrasi dari kepulauan yang jauh. Catatan Ammianus dianggap oleh sebagian orang sebagai klaim bahwa ketika Atlantis tenggelam, penduduknya mengungsi ke Eropa Barat; tetapi Ammianus mengatakan bahwa “Drasidae (Druid) menyebut kembali bahwa sebagian dari penduduk merupakan penduduk asli, tetapi lainnya juga bermigrasi dari kepulauan dan wilayah melewati Rhine” (Res Gestae 15.9), tanda bahwa imigran datang ke Galia dari utara dan timur, tidak dari Samudra Atlantik.[12]
Risalah Ibrani mengenai perhitungan astronomi pada tahun 1378/79, yang merupakan parafrase karya Islam awal yang tidak diketahui, menyinggung mitologi Atlantis dalam diskusi mengenai penentuan titik nol kalkulasi garis bujur.[13]
Catatan modern
Novel Francis Bacon tahun 1627, The New Atlantis (Atlantis Baru), mendeskripsikan komunitas utopia yang disebut Bensalem, terletak di pantai barat Amerika. Karakter dalam novel ini memberikan sejarah Atlantis yang mirip dengan catatan Plato. Tidak jelas apakah Bacon menyebut Amerika Utara atau Amerika Selatan.
Novel Isaac Newton tahun 1728, The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended (Kronologi Kerajaan Kuno Berkembang), mempelajari berbagai hubungan mitologi dengan Atlantis. [14]
Pada pertengahan dan akhir abad ke-19, beberapa sarjana Mesoamerika, dimulai dari Charles Etienne Brasseur de Bourbourg, dan termasuk Edward Herbert Thompson dan Augustus Le Plongeon, menyatakan bahwa Atlantis berhubungan dengan peradaban Maya dan Aztek.
Pada tahun 1882, Ignatius L. Donnelly mempublikasikan Atlantis: the Antediluvian World. Karyanya menarik minat banyak orang terhadap Atlantis. Donnelly mengambil catatan Plato mengenai Atlantis dengan serius dan menyatakan bahwa semua peradaban kuno yang diketahui berasal dari kebudayaan Neolitik tingginya.
Selama akhir abad ke-19, ide mengenai legenda Atlantis digabungkan dengan cerita-cerita “benua hilang” lainnya, seperti Mu dan Lemuria. Helena Blavatsky, “Nenek Pergerakan Era Baru”, menulis dalam The Secret Doctrine (Doktrin Rahasia), bahwa bangsa Atlantis adalah pahlawan budaya (kontras pada Plato yang mendeskripsikan mereka sebagai masalah militer), dan “Akar Ras” ke-4, yang diteruskan oleh “Ras Arya”. Rudolf Steiner menulis evolusi budaya Mu atau Atlantis. Edgar Cayce, pertama kali menyebut Atlantis tahun 1923,[15] dan nantinya menjelaskan bahwa lokasi Atlantis berada di Karibia, dan menyatakan bahwa Atlantis adalah peradaban berevolusi tinggi kuno, kini telah tenggelam, yang memiliki kapal dan pesawat tempur menggunakan energi dalam bentuk kristal energi misterius. Ia juga memprediksi bahwa sebagian dari Atlantis akan naik ke permukaan tahun 1968 atau 1969. Jalan Bimini, yang ditemukan oleh Dr.J Manson Valentine, merupakan formasi batu tenggelam yang terlihat seperti jalan di sebelah utara Kepulauan Bimini Utara. Jalan ini ditemukan pada tahun 1968 dan diklaim sebagai bukti peradaban yang hilang dan kini masih diteliti.
Telah diklaim bahwa sebelum era Eratosthenes tahun 250 SM, penulis Yunani menyatakan bahwa lokasi Pilar-pilar Herkules berada di Selat Sisilia, namun tidak terdapat bukti yang cukup untuk membuktikan hal tersebut. Menurut Herodotus (circa 430 SM), ekspedisi Finisi telah berlayar mengitari Afrika atas perintah firaun Necho, berlayar ke selatan Laut Merah dan Samudera Hindia dan bagian utara di Atlantik, memasuki kembali Laut Tengah melalui Pilar Hercules. Deskripsinya di Afrika barat laut menjelaskan bahwa ia melokasikan Pilar Hercules dengan tepat di tempat pilar Hercules berada saat ini. Kepercayaan bahwa pilar Hercules yang telah diletakan di Selat Sisilia menurut Eratosthenes, telah dikutip dalam beberapa teori Atlantis.
Ide Nasionalis
Konsep Atlantis menarik berhatian teoris Nazi. Pada tahun 1938, Heinrich Himmler mengorganisir pencarian di Tibet untuk menemukan sisa bangsa Atlantis putih. Menurut Julius Evola (Revolt Against the Modern World, 1934), bangsa Atlantis adalah manusia super (Übermensch) Hyperborea—Nordik yang berasal dari Kutub Utara (lihat Thule). Alfred Rosenberg (The Myth of the Twentieth Century, 1930) juga berbicara mengenai kepala ras “Nordik-Atlantis” atau “Arya-Nordik”.
Hipotesa terkini
Dengan teori continental drift secara luas diterima selama tahun 1960-an, kebanyakan teori “Benua Hilang” Atlantis mulai menyusut popularitasnya. Beberapa teoris terkini mengusulkan bahwa elemen cerita Plato berasal dari mitologi awal.
Hipotesa lokasi
Citra satelit Santorini dari udara. Tempat ini merupakan salah satu dari banyak tempat yang diduga sebagai lokasi Atlantis.
Sejak Donnelly, terdapat lusinan – bahkan ratusan – usulan lokasi Atlantis. Beberapa hipotesis merupakan hipotesis arkeologi atau ilmiah, sementara lainnya berdasarkan fisika atau lainnya. Banyak tempat usulan yang memiliki kemiripan karakteristik dengan kisah Atlantis (air, bencana besar, periode waktu yang relevan), tetapi tidak ada yang berhasil dibuktikan sebagai kisah sejarah Atlantis yang sesungguhnya.
Kebanyakan lokasi yang diusulkan berada atau di sekitar Laut Tengah. Pulau seperti Sardinia, Kreta dan Santorini, Sisilia, Siprus dan Malta; kota seperti Troya, Tartessos, dan Tantalus (di provinsi Manisa), Turki; dan Israel-Sinai atau Kanaan. Letusan Thera besar pada abad ke-17 atau ke-16 SM menyebabkan tsunami besar yang diduga para ahli menghancurkan peradaban Minoa di sekitar pulau Kreta yang semakin meningkatkan kepercayaan bahwa bencana ini mungkin merupakan bencana yang menghancurkan Atlantis.[16] Terdapat wilayah di Laut Hitam yang diusulkan sebagai lokasi Atlantis: Bosporus dan Ancomah (tempat legendaris di dekat Trabzon). Sekitar Laut Azov diusulkan sebagai lokasi lainnya tahun 2003.[17] A. G. Galanopoulos menyatakan bahwa skala waktu telah berubah akibat kesalahan penerjemahan, kemungkinan kesalahan penerjemahan bahasa Mesir ke Yunani; kesalahan yang sama akan mengurangi besar Kerajaan Atlantis Plato menjadi sebesar pulau Kreta, yang meninggalkan kota dengan ukuran kawah Thera. 900 tahun sebelum Solon merupakan abad ke-15 SM.[18]
Beberapa hipotesis menyatakan Atlantis berada pada pulau yang telah tenggelam di Eropa Utara, termasuk Swedia (oleh Olof Rudbeck di Atland, 1672–1702), atau di Laut Utara. Beberapa telah mengusulkan Al-Andalus atau Irlandia sebagai lokasi.[19] Kepulauan Canary juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, sebelah barat selat Gibraltar tetapi dekat dengan Laut Tengah. Berbagai kepulauan di Atlantik juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, terutama Kepulauan Azores. Pulau Spartel yang telah tenggelam di selat Gibraltar juga telah diusulkan.[20]
Antarktika, Indonesia, dibawah Segitiga Bermuda,[21] dan Laut Karibia telah diusulkan sebagai lokasi Atlantis. Wilayah di Samudra Pasifik dan Hindia juga telah diusulkan, termasuk Indonesia, Malaysia atau keduanya (Sundaland), dan kisah benua “Kumari Kandam” yang hilang di India telah menarik pararel terhadap Atlantis. Begitu pula dengan monumen Yonaguni di Jepang. Bahkan Kuba dan Bahama juga telah diusulkan. Menurut Ignatius L. Donnelly dalam bukunya, Atlantis: The Antediluvian World, terdapat hubungan antara Atlantis dan Aztlan (tempat tinggal nenek moyang suku Aztek). Ia mengklaim bahwa suku Aztek menunjuk ke timur Karibia sebagai bekas lokasi Aztlan.
Lokasi yang diduga sebagai lokasi Atlantis adalah:
Al-Andalus
Kreta dan Santorini
Turki
Di dekat Siprus
Timur Tengah
Malta
Sardinia
Troya
Antarktika
Australia
Kepulauan Azores
Tepi Bahama dan Karibia
Bolivia
Laut Hitam
Inggris
Irlandia
Kepulauan Canary dan Tanjung Verde
Denmark
Finlandia
Indonesia
Isla de la Juventud dekat Kuba
Meksiko
Laut Utara
Estremadura, Portugal
Swedia
Atlantis dalam seni, sastra dan budaya
Legenda Atlantis muncul dalam banyak buku, film, serial televisi, permainan video, lagu dan karya lainnya. Contoh Atlantis dalam film adalah serial televisi Stargate Atlantis dan film animasi Disney Atlantis: The Lost Empire. Permainan video pertama Tomb Raider menampilkan Atlantis sebagai basis cerita dan lokasi untuk akhir cerita.

Jumat, 02 Oktober 2015

hukum merawat jenazah dengan ongkos dan sholat tidak menghadap kiblat dengan tepat

I.       PENDAHULUAN
Islam, agama yang dibawa Nabi Muhammad ini adalah agama yang paling sempurna. Terbukti Islam memberi petunjuk kepada umatnya dalam berbagai kegiatan dan tindakan baik berupa ucapan ataupun perbuatan dalam ibadah, muamalah, pidana, dan perdata. Semua itu ada hukumnya. Walaupun sebagian yang lain belum ada penjelasannya. Namun syri'at Islam sudah menentukan dalil-dalil dan isyarat-isaratnya dalam al-qur'an dan as-sunnah.
Tapi seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat. Problematika kehidupan manusia pun semakin komplek. Sehingga ada beberapa kejadian yang mungkin secara tekstual belum tersebut dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Disinilah peran ulama' dan tokoh agama menemukan penyelesaian problematika itu dengan menggunakan pendekatan keagamaan yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah serta ijtihad.
Sudah menjadi kewajiban kita sebagai pelajar muslim untuk mempelajari ajaran Islam agar dinamis ditengah derasnya arus globalisasi ini. Oleh karena itu pada makalah ini akan dijelaskan mengenai hukum merewat jenazah dengan menggunakan ongkos (Biro Jasa) dan sholat dengan tidak menghadap kiblat secara tidak tepat. Bagaimanakah hukumnya menerut syari'at Islam?

II.    RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimanakah hukumnya mengurus jenazah dengan menggunakan ongkos (Biro Jasa)?
B. Banyaknya gempa yang terjadi akhir-akhir ini apakah dapat mengubah arah kiblat?
C. Bagaimanakah hukumnya sholat dengan tudak menghadap kiblat secara tepat?



III. PEMBAHASAN
A. Hukum Merawat Jenazah dengan Menggunakan Ongkos (Biro Jasa)





Artinya:
Maka hawa nafsu Qobil menjadikanya menganggap mudah menbunuh saudaranya. Sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepada (Qobil) bagaimana dia menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qobil: aduhai celaka aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. (QS: al-Maidah: 30-31).

           Dari ayat tersebut Allah menerangkan bahwa manusia kadang-kadang belajar dari pengalaman mahluk lain. Karena manusia dalam mengerjakan segala sesuatu berdasarkan usaha dan pengalamannya. Sedangkan pembunuhan ini ini adalah pembunuhan  pertama yang terjadi diantara Bani Adam, maka Qobil tidak tahu, bagaimana cara menyembunyikan mayat saudaranya yang telah terbunuh itu.
Setelah pembunuhan itu Allah mengutus burung gagak ditempat kejadian., lalu burung itu menggali-gali tanah. Maka Qobil yang tadinya bingung bagaimana menyembunyikan mayat saudaranya. Kemudian kebingungan itu hilang dan Qobil mengerti bagaimana menguburkan mayat saudaranya itu.[1]
Maka dari itu umat muslim mempunyai kewajiban yanng berkenaan dengan saudaranya yang meninggal. Adapun kewajiban itu adalah: 1. Memandikan Mayat 2. Mengkafani Mayat 3. Mensholati Mayat 4. Mengubur Mayat
           Tetapi seiring derasnya arus globalisasi juga mempengaruhi pola kehidupan masyarakat muslim. Terutama di kota-kota besar di Indonesia. Mengurus jenazah yang dulunya menjadi fardlu kifayah kini bergeser diwakilkan kepada orang lain (Biro Jasa). Melihat realita tersebut bagaimanakah hukumnya menurut syari'at Islam. Apakah sah jika fardlu kifayah diwakilkan kepada orang lain dengan menggantinya dengan ongkos.
Sehubungan dengan problematika kehidupan masyarakat muslim tersebut, maka dalam terjemah Fathul Mu'in jilid 2 disebutkan:







Artinya:
“adapun untuk ibadah-ibadah yang diwajibkan niat adzan dan iqomah, maka sah menyewa  tenaga atau memburuhkan untuk melakukannya, dan upah disini sebagai imbalan kemanfaatan imbalan semacam efisiensi waktu; Demikian pula merawat jenazah, atau mengajar seluruh atau sebagian Al-qur'an. Walaupun hai ini telah menjadi kewajiban Sang guru. Karena berdasar pada  Hadits Sahih: Sesungguhnya sesuatu yang paling berhak kau ambil upahnya adalah Kitabullah”.[2]

            Jadi merawat jenazah boleh di wakilkan melalui Biro jasa karena merawat jenasah merupakan ibadah yang boleh diwakilkan dan pada prinsipnya setiap ibadah yang diwakilkan itu di perbolehkan pula mengambil upahnya. Asalkan di izinkan oleh pihak keluarga dan tidak memberatkan pihak Shohibul musibah.
            Dari penjelasan yang ada dalam Fathul Mu'in di atas. Maka, dapat diambil kesimpulan bahwa merawat jenazah dengan di wakilkan oleh pihak lain dengan menggunakan ongkos (biro jasa) hukumnya sah, dan kewajiban fardu kifayahnya telah gugur. Begitu juga orang yang merwatnya itu boleh menerima upah dari hal tersebut sebagai wujud terima kasih dan balas jasa.
            B. Banyaknya Gempa Tidak Mengubah Arah Kiblat
        Banyaknya gempa yang terjadi akhir-akhir ini tidak merubah arah kiblat. Adanya isu yang mengabarkan bahwa gempa mengakibatkan arah kilat bergeser tidak perlu di khawatirkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Pakar astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Prof Dr Thomas Djamaluddin, membantah pemberitaan bahwa pergeseran lempengan bumi akibat gempa Cile telah menggeser arah kiblat.
        Diakuinya banyak masjid yang arah kiblatnya kurang tepat, namun bukan karena adanya perubahan arah kiblat, tetapi karena penentuan awal sebelum pembangunannya yang tidak akurat.
        Jadi, arah kiblat yang ditetapkan oleh para ulama dan tokoh agama selama ini sudah sesuai dengan kondisi ilmu falaq dan peralatan yang ada."Sekarang ini kemajuan zaman dan ilmu pengetahuan serta canggihnya peralatan, telah memberikan kemudahan bagi manusia untuk menentukan posisi yang tepat mengarah ke arah Ka’bah," ujar Bahrul Hayat.Hal ini bisa di maklumi karena salah satu syarat sahnya shalat adalah menghadap arah kiblat. Arah kiblat memang bisa di sebabkan karena adanya bencana alam, misal gempa bumi. Meski demikian, pengamat astronomi menilai, masyarakat diharap jangan buru-buru merubah arah kiblat.[3] Namun umat Islam jangan buru-buru dulu dalam mengubah arah kiblat apalagi sampai membongkar masjid.
        Dari penjelasan tersebut maka sudah jelas bahwa arah kiblat tidak berubah dengan adanya gempa.

C. Hukum Sholat dengan Tidak Menghadap Kiblat Secara Tepat
Selama melaksanakan sholat harus menghadap kiblat, karena menghadap kiblat merupakan salah satu sarat sah sholat. Hal ini sesuai dengan firman Allah surat al-Baqorah ayat 144:



Artinya:
Hadapkanlah mukamu kearah masjidil haram dimanapun kamu berada  maka hadapkanlah mukamu ke arahnya.[4]

Tidaklah ada perbedaan paham antara kaum muslimin bahwa menghadap,kiblat itu wajib untuk sarat sahnya sholat. Hanya, perbedaan paham tentang apakah wajib dihadapi itu apakah benar-benar menghadap ke ka'bah ('ain ka'bah) ataukah cukup menghadap ke jihad (arah) ka'bah? Dalam hal ini pendapat mereka ad dua macam:
Madzhab Syafi'i dan orang-orang yang sepaham mereka berpendapat: untuk orang yang melihat ka'bah ia benar wajib menghadap ka'bah itu ('ain ka'bah) tetapi orang yang jauh dari ka'bah wajib atasnya menyengaja menghadap 'ain ka'bah, walaupun pada hakikatnya ia hanya menghadap jihad ka'bah. Sedangkan Madzhab Hanafi dan orang-orang yang sepaham dengan mereka, mengemukakan bahwa orang yang mengemukakan bahwa orang yang melihat ka'bah dan memungkinkan menghadap 'ain ka'bah wajib menghadap ka'bah itu sungguh-sungguh, tetapi bagi orang yang jauh cukuplah menghadap ke jihad ka'bah itu saja.[5]
Mengenai hal ini MUI mengeluarkan fatwa tentang arah kiblat.
Fatwa MUI No. 03 Tahun 2010 tentang Kiblat disebutkan, pertama, tentang ketentuan hukum. Dalam kententuan hukum tersebut disebutkan bahwa: (1) Kiblat bagi orang shalat dan dapat melihat ka’bah adalah menghadap ke bangunan Ka’bah (ainul ka’bah). (2) Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Ka’bah adalah arah Ka’bah (jihat al-Ka’bah). (3). Letak georafis Indonesia yang berada di bagian timur Ka’bah/Mekkah, maka kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap kea rah barat.[6]
Berdasarkan pada beberapa pendapat diatas dan penjelasan serta pengesahan fatwa MUI tidak perlu dikhawatirkan lagi mengenai arah kiblat,. Apakah dengan adanya gempa akhir-akhir ini? Dan sah ataukah tidak sholat bjika tidak mengghadap kiblat secara tepat. Kare3na menghadap, “ainul ka'bah bagi orang yang berjauhan dengan ka'bah tidak menjadi sarat tapi cukup menghadap ke arahnya saja. Jadi isu yang mengabarkan bahwa dengan terjadinyagempa yang melanda negeri ini tidak perlu dipermasalahkan. Jika yang dipermasalahkan hanya arah kiblat saja. 

IV. KESIMPULAN
Darii penjelasan diatas maka dapat saya simpulkan sebagai berikut. Merawat jenazah itu merupakan ibadah yang biisa diwakilkan (dengan sarat apabila itu diizinkan oleh keluarganya), maka merawat jenazah dengan cara diwakilkan melalui (biro jasa) dibolehkan karena merupakan ibadah yang boleh diwakilkan dan orang yang merwatnya  boleh ngambil upah karena sebagai wujud penghargaan atas profesionalitasnya.
Yadi, pendapat menurut ahli astronomi dari lembaga antariksa dan penerbangan nasional (LAPAN) dan dari cendekiawan muslim  azyumari azra maka dapat ditarik kesimpulan bahwasannya arah kiblat akan berubah akibat gempa bumi.
Tidak perlu ada kekhawatiran lagi mengenai arah kiblat ”a'inul kiblat” bagi orang yang berjauhan dari kota makkah bukanlah menjadi syarat tetapi cukup arahnya saja sudah memadai. Karena Allah swt tidak memberatkan hambanya dari hal-hal serupa.

V.    PENUTUP
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritk dan saran yang membangun dari para pembaca. Dan sebelum penulis menutup makalah ini penulis ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada yang brkurang dari penyusunan makalah ini.
Akhirnya, segala puji bagi Allah swt yang telah mencurahkan rahmat-Nya dan menerangkan pikiran-pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serata salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada nabi Muhammd SAW sebagai rasa terimakasih penulis atas segala petunjuk-Nya. Sebagai penutup penulis sungguh sangat berharap semoga makalah ini ndapat bermanfaat bagi para pembaca.